Pages

Selasa, 07 Juli 2009

EKSTRAKSI VAKUM

Batasan :

Ekstraksi Vakum adalah tindakan obstetrik operatif untuk melahirkan kepala janin dengan menggunakan “mangkuk hampa udara” yang ditempelkan pada kulit kepala janin dari seorang parturien yang masih memiliki tenaga meneran.

Indikasi Konvensional:

Mempersingkat kala II pada keadaan :

  1. Ibu tidak boleh meneran terlalu lama pada kala II akibat kondisi obstetri tertentu (pre eklampsia berat, anemia, diabetes mellitus, eklampsia)
  2. Kondisi obstetri tertentu :
    1. Riwayat SC
    2. Kala II memanjang
  3. Maternal distress pada kala II
  4. Gawat janin pada kala II dengan syarat :
    1. Perjalanan persalinan normal
    2. Fasilitas sectio caesar sudah siap

Kontraindikasi Absolute :

  • Disproporsi sepalo-pelvik .
  • Operator tidak dapat mengenali denominator dengan baik
  • Operator tidak kompeten untuk melakukan ekstraksi vakum.
  • Kelainan letak :
    • Presentasi Muka
    • Letak Dahi
    • Presentasi Lintang
    • “After coming head” pada presentasi sungsang

Kontraindikasi Relatif:

1. Pasca pengambilan sediaan darah dari kulit kepala janin.

2. Prematuritas (<36>

  • Kecuali pada persalinan gemelli anak ke II dimana persalinan hanya memerlukan traksi ringan akibat sudah adanya dilatasi servix dan vagina.
  • Dikhawatirkan terjadi trauma intrakranial, perdarahan intrakranial , ikterus neonatorum berat.

3. IUFD

  • Oleh karena : tidak dapat terbentuk kaput.
  • Pada janin maserasi, kranium sangat lunak sehingga pemasangan mangkuk menjadi sulit.

4. Kelainan kongenital janin yang menyangkut kranium : anensephalus



Alat ekstraksi vakum:

  1. Cawan penghisap ( cup ) clip_image002[4]
  2. Terdiri dari 3 ukuran :
    1. 50 mm
    2. 60 mm
    3. 70 mm
  3. Botol penghisap
  4. Pompa penghisap
  • Pemilihan ukuran cawan penghisap disesuaikan dengan dilatasi servik ; pada dilatasi servik yang sudah lengkap biasanya dipasang ukuran yang terbesar (70 mm).
  • Pada sisi belakang cawan penghisap terdapat “ marker “ sebagai penuntun gerakan rotasi dalam dan dipasang pada posisi jam 12.
  • Pada penampang melintang cawan penghisap terlihat adanya rantai yang merupakan alat pengaman agar cawan tidak mudah terlepas dari “pegangan” saat melakukan traksi.

clip_image002[6]

Diagram mangkuk penghisap

clip_image002

cawan penghisap


Syarat ekstraksi vakum

  1. Janin diperkirakan dapat lahir pervaginam.
  2. Pembukaan sekurang - kurangnya 7 cm ( idealnya adalah dilatasi lengkap ).
  3. Penurunan kepala > station 0 ( idealnya adalah setinggi Hodge III + )
  4. Selaput ketuban negatif.
  5. Harus ada kekuatan meneran ibu dan kontraksi uterus (HIS )


Prinsip ekstraksi vakum:

Membuat suatu caput succadeneum artifisialis dengan cara memberikan tekanan negatif pada kulit kepala janin melalui alat ekstraktor vakum.

clip_image002[8]

Caput Succadeneum

clip_image002[10]

Pemasangan cawan penghisap dalam keadaan miring


Pemasangan cawan penghisap

  1. Setelah persiapan operator dan atau pasien selesai serta peralatan sudah dipersiapkan dengan baik.
  2. Labia dibuka dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri dari arah atas.
  3. Cawan penghisap yang sudah dilumuri dengan jelly dimasukkan jalan lahir secara miring dengan menghindari urethra dan klitoris.
  4. Cawan penghisap diputar 900 dan ditempatkan tepat pada permukaan kulit kepala dengan posisi menjauhi ubun-ubun besar.
  5. Buat tekanan vakum dalam cawan penghisap dengan memompa sampai 0.2 kg/cm2 sebagai tekanan awal.
  6. Pastikan bahwa cawan penghisap terpasang dengan baik dan tidak ada bagian jalan lahir atau sisa selaput amnion yang ikut terjepit
  7. Setelah 2 menit, naikkan tekanan negatif sampai 0.7 – 0.8 kg/cm2 dengan kecepatan 0.2 kg/cm2 setiap 2 menit.
  8. Penilaian ulang untuk melihat adanya bagian jalan lahir yang terjepit.
  9. 9. Traksi percobaan untuk melihat apakah ekstraksi vakum sudah berfungsi dengan baik.
  10. 10. Traksi sesuai dengan derajat desensus sampai lahirnya kepala janin.
  11. 11. Cawan penghisap dilepas dan sisa tubuh anak dilahirkan dengan cara sebagaimana lazimnya.


Ekstraksi Vakum Pada Posisi Occiput Anterior

clip_image002[14]

Pemasangan cawan pada sutura sagitalis menjauhi ubun-ubun besar

clip_image002[16]

Posisi awal, arah traksi horisontal sampai kepala nampak dibawah simfisis

clip_image002[18]

clip_image002[4]


Cara melakukan traksi


Kriteria Kegagalan Ekstraksi Vakum:

  1. Cawan penghisap terlepas lebih dari 3 kali saat melakukan traksi dan hal ini biasanya terjadi oleh karena :
    1. Tenaga vakum terlampau rendah (seharusnya -0.8 kg/cm2) oleh karena kerusakan pada alat atau pembentukan caput succedaneum yang terlampau cepat ( < 0.2 kg/cm2 per 2 menit)
    2. Terdapat selaput ketuban atau bagian jalan lahir yang terjepit diantara cawan penghisap dengan kepala anak.
    3. Saat melakukan traksi : kedua tangan penolong tidak bekerja secara harmonis, traksi dengan arah yang tidak tegak lurus dengan bidang cawan penghisap atau traksi dilakukan dengan tenaga yang berlebihan.
    4. Terdapat gangguan pada imbang sepalopelvik (CPD)
  2. Setelah dilakukan traksi selama 30 menit, janin belum dapat dilahirkan.


KOMPLIKASI

Pada Ibu :

  • Perdarahan
  • Infeksi jalan lahir
  • Trauma jalan lahir

Pada anak :

  • Ekskoriasi dan nekrosis kulit kepala
  • Cephal hematoma
  • Subgaleal hematoma
  • Perdarahan intrakranial
  • Perdarahan subconjuntiva, perdarahan retina
  • Fraktura klavikula
  • Distosia bahu
  • Cedera pada syaraf cranial ke VI dan VII
  • Erb paralysa
  • Kematian janin


Keunggulan ekstraktor vakum dibandingkan ekstraksi cunam:

  1. Tehnik pelaksanaan relatif lebih mudah
  2. Tidak memerlukan anaesthesia general
  3. Ukuran yang akan melewati jalan lahir tidak bertambah (cawan penghisap tidak menambah ukuran besar bagian anak yang akan melwati jalan lahir)
  4. Trauma pada kepala janin relatif rendah


Kerugian ekstraktor vakum dibandingkan ekstraksi cunam:

  1. Proses persalinan membutuhkan waktu yang lebih lama.
  2. Tenaga traksi pada ekstraktor vakum tidak sekuat ekstraksi cunam.
  3. Pemeliharaan instrumen ekstraktor vakum lebih rumit.
  4. Ekstraktor vakum lebih sering menyebabkan icterus neonatorum.


Berbagai rekomendasi berkaitan dengan tindakan ekstraksi vakum :

  1. Klasifikasi persalinan dengan ekstraksi vakum hendaknya menggunakan klasifikasi yang sama dengan ekstraksi cunam.
  2. Indikasi dan kontraindikasi yang dipakai dalam ekstraksi cunam hendaknya juga digunakan pada ekstraksi vakum.
  3. Ekstraksi vakum tidak boleh dilakukan pada kepala yang masih belum engage atau diatas station 0.
  4. Operator hendaknya memiliki pengalaman yang cukup dalam menggunakan peralatan ekstraksi vakum.
  5. Operator harus segera menghentikan usaha persalinan pervaginam dengan ekstraksi vakum bila cawan penghisap terlepas sampai 3 kali saat melakukan traksi.


Sumber Bacaan :

  1. American College of Obstetrics and Gynecology: Clinical management guidelines for obstetrician-gynecologists. In: ACOG Practice Bulletin. 17: June 2000.
  2. Cunningham FG (editorial) : Forceps Delivery and Vacuum Extraction in “William Obstetrics” 22nd ed p 547 – 563 , Mc GrawHill Companies 2005
  3. Duchon MA, DeMund MA, et al: Laboratory comparison of modern vacuum extractor. Obstet Gynecol 72 : 155, 1998
  4. Gillstrap LC III: Forcep Delivery. In Gillstrap LC III, Cunningham FG, Van Dorsten JP(eds) : Operative Obstetrics 2nd ed. New York, Mc Graw-Hill, 2002
  5. Johanson R, Menon V: Soft versus rigid vacuum extractor cups for assisted vaginal delivery. Cochrane Database Syst Rev 2000; (2): CD000446
  6. Koscica KL, Gimovsky ML: Vacuum extraction. Optimizing outcomes. Reducing legal risk. OBG Management April 2002. p 89

editor : dr.Bambang Widjanarko,SpOG

0 komentar:

Poskan Komentar